Kubu Raya post authorKiwi 29 April 2026

Sepakati Proposal Pencegahan Kasus Pelecehan, Pertemuan Pleno Kapusin Pontianak di Tirta Ria Rampung

Photo of Sepakati Proposal Pencegahan Kasus Pelecehan, Pertemuan Pleno Kapusin Pontianak di Tirta Ria Rampung

KUBU RAYA,SP - Misa penutup Pertemuan Pleno Persaudaraan Kapusin Provinsi Maria Ratu Para Malaikat Pontianak berlangsung di Kapel Rumah Retret Tirta Ria. Ibadah dipersembahkan oleh Pastor Dedi Sabetmayon, OFMCap.

Selama tiga hari, pada 27–29 April 2026, para saudara Kapusin dari berbagai wilayah berkumpul untuk membahas topik penting bertajuk “Pencegahan, Penanganan, dan Penyelesaian Kasus Pelecehan Seksual terhadap Kaum Minor dan Dewasa Rentan.”

Pembahasan dilakukan secara mendalam dengan merujuk pada berbagai literatur dan kajian, baik dari dalam maupun luar negeri.

Sejumlah narasumber dan peserta dengan keahlian khusus turut memperkaya diskusi, di antaranya Pastor Paulus Toni, OFMCap (ahli Kitab Suci), Pastor Hermanus Mayong, OFMCap (ahli Hukum Gereja), serta Pastor Bagara Darmawan, OFMCap selaku Minister Provinsial yang juga ahli Hukum Sosial.

Kegiatan ini dihadiri peserta dari berbagai daerah, termasuk Timor Leste, Sumatera Utara, Banjarmasin, Pangkalan Bun, Jakarta, serta sejumlah wilayah Kalimantan Barat seperti Pontianak, Sambas, Singkawang, Bengkayang, Landak, Sanggau, Kapuas, hingga Kapuas Hulu.

Suasana pertemuan berlangsung hangat dalam semangat persaudaraan, namun tetap serius dalam membahas isu yang diangkat.

Di akhir pertemuan, seluruh hasil pembahasan berhasil dirangkum dalam bentuk protokol dan akan diserahkan kepada pimpinan Ordo serta MPDP untuk mendapatkan pengesahan.

Kegiatan kemudian ditutup oleh Minister Provinsial, Pastor Dr. Bagara Darmawan, OFMCap, dan dilanjutkan dengan makan siang bersama sebelum para peserta kembali ke tempat tugas masing-masing.

Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, salah satu peserta sekaligus Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Ia berharap hasil kesepakatan dapat benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan persaudaraan.

“Saya berharap apa yang sudah disepakati dalam pembicaraan ini dapat dilaksanakan. Ini menjadi peringatan bagi calon maupun anggota persaudaraan agar menyadari konsekuensi pilihan hidupnya,” ujar Si Plontos Bertato, yang juga terkenal dengan sebutan Bruder Preman.

Bruder Stephanus Paiman, sebagai salah seorang tokoh kemanusiaan di Kalimantan Barat (Kalbar) selalu aktif dalam pendampingan berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan di Bumi Khatulistiwa.

Melalui perannya di FRKP, ia kerap terlibat dalam upaya penanganan kasus-kasus kemanusiaan, termasuk pendampingan korban, advokasi sosial, serta penguatan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu kerentanan.

Dedikasinya dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan membuatnya dikenal luas sebagai figur yang konsisten hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan dukungan, terutama dalam situasi rentan dan krisis sosial.

Kepekaan dan pengalamannya di lapangan turut memperkaya kontribusinya dalam forum-forum diskusi seperti pertemuan Kapusin tersebut, khususnya dalam menekankan pentingnya pendekatan yang manusiawi dalam penanganan setiap kasus.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan administratif, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membangun lingkungan persaudaraan yang aman, bertanggung jawab, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. (mul)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda